top of page

Sektor Perkantoran Jakarta Diproyeksi Pulih dalam 3 Tahun

Perkantoran di Jakarta, Foto: istw/Kompas.com
Perkantoran di Jakarta, Foto: istw/Kompas.com

JAKARTA,JPI -– Pasar properti perkantoran di Jakarta diproyeksikan memasuki fase pemulihan penuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seiring dengan membaiknya prospek ekonomi dan terbatasnya pasokan gedung baru.


Laporan Colliers Indonesia mencatat tingkat hunian (okupansi) gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) berpotensi meningkat signifikan hingga mencapai 83,5% pada 2029. Angka ini naik dari posisi kuartal I/2026 yang masih berada di kisaran 75,7%.


Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyebutkan bahwa pemulihan sektor ini membutuhkan waktu bertahap setelah tekanan yang terjadi sejak pandemi.

“Jika ditanya kapan sektor perkantoran pulih, kami melihat butuh waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk kembali ke level sebelum pandemi,” ujarnya dalam laporan pasar properti kuartal I/2026.


Minim Pasokan Jadi Katalis


Menurut Ferry, salah satu faktor utama yang mendorong pemulihan adalah terbatasnya suplai gedung baru dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, pada 2027 diperkirakan tidak ada tambahan pasokan gedung perkantoran baru di Jakarta.

Kondisi ini membuat penyewa akan lebih banyak menyerap ruang kosong yang saat ini masih cukup besar di pasar.


“Pasokan pada 2027 diproyeksikan nihil, dan baru akan kembali muncul pada 2028. Dengan pertumbuhan suplai yang sangat terbatas, ini menjadi momentum bagi pasar untuk berangsur pulih,” jelasnya.


Berdasarkan data, tambahan pasokan baru akan mulai terlihat pada 2028 di kawasan Sudirman sekitar 60.000 meter persegi, serta di Thamrin sekitar 36.000 meter persegi pada 2029.


Untuk tahun 2026 sendiri, total tambahan pasokan diperkirakan mencapai sekitar 54.036 meter persegi, dengan rincian sekitar 33.000 meter persegi berada di Jakarta Selatan dan sekitar 20.736 meter persegi di Jakarta Barat.


Sektor Finansial dan Teknologi Dominan


Dari sisi permintaan, sektor keuangan dan teknologi diperkirakan tetap menjadi motor utama penyerapan ruang kantor di Jakarta.

Meski demikian, tantangan masih terlihat dari tingginya tingkat ruang kosong yang saat ini mencapai sekitar 3 juta meter persegi. Sebagian besar berasal dari gedung perkantoran kelas A dan B, baik di dalam maupun di luar kawasan CBD.


Tren Green Building Makin Kuat


Selain lokasi strategis, tren keberlanjutan juga menjadi faktor penting dalam keputusan penyewa, terutama perusahaan multinasional.

Saat ini, sekitar 50 gedung perkantoran di Jakarta telah mengantongi sertifikasi bangunan hijau dalam lima tahun terakhir. Sertifikasi tersebut menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan dalam persaingan pasar.


Dengan kombinasi antara pemulihan ekonomi, terbatasnya pasokan baru, serta meningkatnya preferensi terhadap gedung ramah lingkungan, sektor perkantoran Jakarta dinilai memiliki peluang besar untuk kembali menguat dalam beberapa tahun ke depan.



 
 
 

Komentar


bottom of page