LIXIL Tampilkan OASE di ARCH:ID 2026, Dorong Kolaborasi Arsitektur dan Solusi Hunian Berkelanjutan
- Erfendi
- 30 Apr
- 3 menit membaca

Jakarta, JPI - LIXIL mempertegas perannya sebagai katalisator perubahan dalam industri arsitektur dan hunian berkelanjutan. Perusahaan global ini mendorong paradigma baru bahwa kualitas ruang hidup tidak lagi bisa dibangun secara sektoral, melainkan harus melalui kolaborasi lintas disiplin yang terintegrasi.
Melalui berbagai inisiatif strategis, LIXIL membuka ruang dialog antara arsitek, pengembang, desainer interior, hingga peneliti, guna menciptakan solusi yang lebih adaptif terhadap tantangan lingkungan dan sosial.
Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, menegaskan bahwa kolaborasi kini telah menjadi standar baru dalam membentuk kualitas hunian.
“Arsitektur masa kini dituntut memberikan dampak lebih luas, mulai dari aspek lingkungan, sosial, hingga pembangunan nasional. Kolaborasi memungkinkan lahirnya solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan,” ujarnya.
OASE: Ketika Arsitektur Bertemu Data, Air, dan Sejarah Kota
Komitmen tersebut diwujudkan melalui paviliun OASE (Architecture in the Water Cycle) yang dihadirkan LIXIL dalam ajang ARCH:ID 2026. Paviliun ini menjadi representasi nyata integrasi antara desain arsitektur, riset lingkungan, narasi sosial, dan pendekatan lanskap dalam satu pengalaman ruang yang utuh.
Dikembangkan melalui kolaborasi dengan Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio, OASE mengangkat isu krusial mengenai relasi air, sanitasi, dan perkembangan kota.
Adi Purnomo, Founder Mamostudio, menyebut paviliun ini sebagai ruang refleksi sekaligus katalisator diskusi publik mengenai masa depan kota.
“OASE kami rancang sebagai ruang terbuka untuk memaknai kembali hubungan antara air dan kehidupan urban. Ini bukan sekadar instalasi, tetapi medium untuk memperluas percakapan,” jelasnya.
Pendekatan berbasis riset menjadi fondasi utama proyek ini, memperlihatkan bahwa arsitektur dapat berkembang melalui dialog antara berbagai disiplin ilmu.
Riset Sanitasi dan Pelajaran dari Sejarah Perkotaan
Kontribusi ilmiah dalam paviliun ini juga diperkuat oleh penelitian lintas disiplin yang mengangkat sejarah sanitasi dan dinamika kota, termasuk transformasi Batavia akibat krisis air dan kesehatan pada masa kolonial.
Peneliti Labtek Apung, Novita Anggraini, menjelaskan bahwa isu sanitasi memiliki dampak langsung terhadap struktur sosial dan perkembangan kota.
“Sejarah menunjukkan bahwa persoalan air dan sanitasi dapat mengubah arah peradaban kota. Sayangnya, akses terhadap riset ini masih terbatas. Kehadiran OASE menjadi jembatan penting untuk menghadirkannya ke publik,” ujarnya.
Sanitasi sebagai Isu Global dan Investasi Sosial
Isu sanitasi menjadi salah satu fokus utama LIXIL secara global. Perusahaan mencatat masih terdapat miliaran orang di dunia yang belum memiliki akses sanitasi layak.
Melalui berbagai inisiatif, LIXIL telah berkontribusi meningkatkan akses sanitasi bagi lebih dari 100 juta orang secara global. Upaya ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang signifikan.
Pendekatan ini menegaskan bahwa sanitasi bukan sekadar isu teknis, melainkan bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Dari Data ke Desain: Arsitektur Berbasis Environmental Intelligence
Untuk memperkaya diskursus, LIXIL juga menghadirkan forum dialog selama ARCH:ID 2026, termasuk sesi open house dan diskusi bertajuk From Data to Design: Rethinking Architecture Through Environmental Intelligence.
Melalui pendekatan ini, data lingkungan diolah menjadi dasar perancangan arsitektur yang lebih responsif, sekaligus memperkuat integrasi antara sains dan desain.
Keberhasilan konsep OASE menjadikannya salah satu sorotan utama dalam pameran, sekaligus meraih penghargaan Best Booth Award.
Membangun Ekosistem Arsitektur Masa Depan
Selain melalui instalasi dan forum, LIXIL juga memperkuat perannya lewat platform berkelanjutan seperti LIXIL Architectural Design Competition (LADC) dan LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD).
Kedua inisiatif ini dirancang sebagai ruang eksplorasi ide, dialog, serta pengembangan kapasitas bagi arsitek dan desainer di Indonesia.
LADC 2026 akan mengangkat tema “ARCHIPELAGO DIALOGUES”, membuka peluang kolaborasi berbasis keberagaman perspektif. Sementara LDAD 2026 akan menghadirkan tokoh arsitektur dunia seperti Patrik Schumacher dan praktisi ternama lainnya.
“Melalui platform ini, kami ingin membangun ekosistem yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga kolaboratif dan adaptif terhadap masa depan,” tutup Arfindi.




Komentar