top of page

Transaksi Danantara Housing Expo 2026 Capai Rp2 Triliun, Jauh dari Target Rp10 Triliun

31 Agu
3 menit membaca
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, (kiri) dan COO BPI Danantara Dony Oskaria, (kanan) memberikan keterangan pers di Danantara Housing Expo 2026, NICE PIK 2, Jakarta, Minggu (30/8/2026). JPI/Fendi
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, (kiri) dan COO BPI Danantara Dony Oskaria, (kanan) memberikan keterangan pers di Danantara Housing Expo 2026, NICE PIK 2, Jakarta, Minggu (30/8/2026). JPI/Fendi

JAKARTA, JPI — Ambisi besar untuk menciptakan transaksi hingga Rp10 triliun dalam ajang Danantara Housing Expo 2026 belum sepenuhnya terwujud. Hingga hari terakhir penyelenggaraan pameran properti yang digagas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tersebut, nilai transaksi yang tercatat baru mencapai sekitar Rp2 triliun. Artinya, realisasi transaksi baru mencapai sekitar 20 persen dari target Rp10 triliun yang sebelumnya dipatok untuk ajang yang berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di NICE PIK 2.


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatatkan transaksi tertinggi dengan nilai sekitar Rp400 miliar. Sementara nilai transaksi Rp2 triliun merupakan akumulasi dari berbagai skema pembiayaan perumahan, baik yang disalurkan melalui bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun pembiayaan komersial dan subsidi yang ditawarkan pengembang.


Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengakui realisasi transaksi tersebut masih berada di bawah target yang dicanangkan. Namun, menurutnya, angka tersebut merupakan transaksi yang telah terjadi dan closing, belum termasuk nilai prospek maupun booking yang masih berpotensi berlanjut.


"Sampai hari kemarin itu transaksinya sudah Rp2 triliun yang transaksi. Artinya target kita untuk transaksi terjadi, closing itu sudah tercapai di luar daripada prospektus dan juga booking," ujar Dony kepada media pada hari terakhir pameran, Minggu (30/8/2026).


Ramai Pengunjung, Namun Target Transaksi Belum Tercapai


Pameran ini dirancang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem perumahan, mulai dari perbankan, pengembang properti, industri material bangunan, hingga pelaku UMKM. Ajang tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong sektor perumahan dan mendukung Program Tiga Juta Rumah.


Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menjelaskan bahwa transaksi yang tercatat berasal dari berbagai skema pembiayaan perumahan. Pilihan pembiayaan mencakup KPR dari bank-bank Himbara—Mandiri, BRI, BNI, dan BTN—serta pembiayaan hunian komersial dan subsidi yang ditawarkan pengembang.


Namun, tingginya jumlah pengunjung belum otomatis berbanding lurus dengan realisasi transaksi. Perbedaan antara target Rp10 triliun dan capaian sekitar Rp2 triliun menjadi salah satu catatan dalam penyelenggaraan pameran perdana tersebut.


Di satu sisi, penyelenggara menilai antusiasme masyarakat cukup tinggi. Di sisi lain, realisasi transaksi menunjukkan bahwa mengubah minat pengunjung menjadi keputusan pembelian rumah tetap membutuhkan proses yang tidak sederhana.


Keluhan Feeder hingga Sosialisasi


Pelaksanaan pameran juga diwarnai sejumlah keluhan pengunjung. Beberapa masukan berkaitan dengan fasilitas pendukung, termasuk ketersediaan dan sosialisasi transportasi feeder menuju lokasi pameran.


Keterbatasan transportasi dari pusat kota juga menjadi perhatian, terutama mengingat lokasi penyelenggaraan berada di kawasan PIK 2. Menanggapi berbagai masukan tersebut, Dony mengatakan penyelenggara akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan acara. Menurut dia, layanan feeder sebenarnya telah disediakan, namun informasi mengenai layanan tersebut dinilai belum tersosialisasi secara optimal kepada masyarakat.


"Tadi ada beberapa masukan daripada tenant maupun pengunjung mengenai ketersediaan feeder. Ini akan kita evaluasi, sebenarnya kita menyediakan feeder, tapi mungkin sosialisasi kurang masif," kata Dony.


Lebih dari Sekadar Pameran Properti


Capaian Danantara Housing Expo 2026 juga menjadi pengingat bahwa persoalan penyediaan perumahan tidak hanya berkaitan dengan mempertemukan calon pembeli dan pengembang dalam sebuah pameran.


Target Program Tiga Juta Rumah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks, mulai dari ketersediaan pembiayaan, harga tanah dan rumah, daya beli masyarakat, hingga kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk mengakses kredit.

Karena itu, integrasi antara penyediaan lahan oleh pengembang, dukungan pembiayaan dari sektor perbankan, serta kebijakan yang mampu meningkatkan keterjangkauan bagi MBR akan menjadi faktor penting dalam memperluas akses terhadap kepemilikan rumah.


Meski realisasi transaksi Rp2 triliun masih jauh dari target awal Rp10 triliun, ajang Danantara Housing Expo 2026 setidaknya memperlihatkan dua hal. Antusiasme masyarakat terhadap pencarian hunian tetap besar, tetapi tingginya kebutuhan rumah belum selalu berujung pada kemampuan dan kesiapan masyarakat untuk langsung melakukan transaksi.


Evaluasi terhadap aksesibilitas lokasi, fasilitas pendukung, sosialisasi, hingga skema pembiayaan akan menjadi pekerjaan berikutnya apabila pameran serupa kembali digelar. Sebab, untuk mempercepat penyerapan hunian dan mendukung target Program Tiga Juta Rumah, diperlukan bukan hanya pameran yang ramai pengunjung, tetapi juga ekosistem yang mampu mengubah kebutuhan dan minat masyarakat menjadi kepemilikan rumah yang nyata.




 
 
 

Komentar


bottom of page