Mal Premium Melaju, Segmen Menengah Bawah Masih Tertahan
- Erfendi
- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca

JAKARTA. JPI - Kinerja pusat perbelanjaan menunjukkan tren yang semakin terpolarisasi pada awal 2026. Segmen mal kelas atas mencatatkan performa solid, sementara mal di kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan pemulihan.
Konsultan properti Colliers Indonesia mencatat tingkat okupansi mal premium telah mencapai sekitar 90 persen% pada kuartal I/2026. Sebaliknya, okupansi mal di segmen menengah bawah masih tertahan di kisaran 58%.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengungkapkan bahwa permintaan di segmen atas bahkan telah menciptakan antrean tenant yang panjang.
“Kelas atas saat ini memiliki waiting list yang kuat, sehingga tingkat okupansi bisa mencapai 90 persen%. Sementara mal kelas menengah bawah belum sepenuhnya pulih,”
Kuatnya performa mal premium ditopang oleh ekspansi agresif tenant di sektor food & beverage (F&B) dan lifestyle. Kondisi ini turut memperkuat posisi tawar pengelola dalam menjaga tarif sewa tetap tinggi.
Namun di sisi lain, tantangan utama mal menengah bukan hanya soal trafik
pengunjung. Meskipun jumlah pengunjung mulai meningkat, konversi menjadi transaksi dinilai masih belum optimal.
Selain itu, perubahan perilaku konsumen—khususnya generasi muda—ikut memengaruhi performa tenant. Segmen fashion, misalnya, menghadapi tekanan akibat kompetisi ketat dengan platform belanja daring yang semakin dominan.
Dalam jangka menengah, tekanan juga datang dari sisi pasokan. Hingga 2029, total tambahan suplai ruang ritel diproyeksikan mencapai sekitar 63.000 meter persegi, dengan wilayah Bodetabek menyumbang sekitar 91.000 meter persegi ruang baru.
Di tengah bertambahnya pasokan, pengelola mal juga dihadapkan pada kenaikan biaya operasional, meskipun tarif sewa masih mencatatkan kenaikan secara moderat.
Ke depan, pasar ritel diperkirakan memasuki fase penyesuaian yang lebih realistis. Strategi pengelola pun mulai bergeser dari sekadar meningkatkan okupansi menjadi membangun ekosistem belanja yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan perubahan perilaku konsumen.
Sejumlah mal bahkan mulai melakukan renovasi dan repositioning sebagai upaya untuk meningkatkan daya tarik serta mendorong kinerja di tengah persaingan yang semakin ketat.




Komentar