Segmen Pergudangan, Logistik, dan Kawasan Industri Motor Utama Pertumbuhan Sektor Properti 2026
- Erfendi
- 7 Jan
- 2 menit membaca

JAKARTA, JPI - Segmen pergudangan, logistik, dan kawasan industri diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan sektor properti sepanjang tahun ini, melampaui kinerja segmen lainnya. Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya permintaan pasar yang belum sepenuhnya mampu diimbangi oleh ketersediaan pasokan di lokasi-lokasi strategis.
Konsultan properti Colliers Indonesia mencatat, sektor industri—khususnya pergudangan—telah melewati fase kritis dalam siklus properti dan kini memasuki periode pertumbuhan yang lebih solid. Kebutuhan pelaku usaha terhadap fasilitas distribusi yang efisien menjadi pendorong utama menguatnya permintaan.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan, permintaan terhadap warehouse dan distribution hub terus meningkat, sementara stok yang tersedia masih relatif terbatas.
“Pasar industri, terutama pergudangan, permintaannya cukup tinggi, namun pasokan masih terbatas. Untuk distribution hub, permintaan paling kuat datang dari lokasi yang dekat dengan akses jalan tol dan pusat kota agar waktu distribusi bisa lebih efisien,” ujar Ferry dalam media briefing, Rabu (7/1/2026).
Ia mencontohkan pasar kawasan industri dan logistik di Surabaya dan sekitarnya yang menunjukkan tingkat resiliensi tinggi, meski pergerakan permintaan lahan relatif lebih lambat akibat ketidakpastian ekonomi global. Sejak 2022, tingkat okupansi gudang modern di kawasan tersebut terus meningkat dan kini berada di kisaran 95%, mendekati kapasitas maksimal.
Seiring tingginya tingkat keterhunian, rata-rata harga sewa gudang modern di Surabaya juga mengalami kenaikan yang stabil, mendekati Rp68.000 per meter persegi. Sementara itu, untuk lahan industri, harga di wilayah Surabaya Selatan tercatat lebih tinggi dibandingkan area Barat, dengan kisaran mencapai Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per meter persegi.
Selain sektor industri dan logistik, segmen ritel juga diprediksi akan melanjutkan tren positif. Sepanjang 2025, pasar ritel menunjukkan performa yang relatif konsisten, ditopang oleh pertumbuhan pasokan yang terbatas sehingga tingkat okupansi tetap terjaga di level tinggi.
Berbeda dengan kedua segmen tersebut, sektor perkantoran dinilai masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Kendati demikian, Colliers melihat adanya sinyal perbaikan mulai tahun ini. Menurut Ferry, fundamental pasar perkantoran mulai membaik seiring dengan pertumbuhan pasokan yang sangat terkendali dan minimnya ekspansi gedung baru.
“Fokus pasar saat ini bukan lagi agresivitas ekspansi, melainkan menjaga keseimbangan supply dan demand. Kami tidak mengharapkan pertumbuhan yang terlalu agresif, namun arah perbaikannya sudah mulai terlihat,” jelasnya.
Colliers mencatat tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD Jakarta pada kuartal IV/2025 telah mencapai 75,8%, sementara rata-rata okupansi gedung perkantoran di luar CBD bertahan di sekitar 70%.
Sementara itu, pada segmen hunian vertikal, tantangan masih membayangi. Pengembang kini dinilai lebih realistis dan cenderung menghindari spekulasi pembangunan dalam skala besar. Pasokan apartemen baru diperkirakan belum akan meningkat signifikan, seiring dengan pengetatan pembiayaan perbankan terhadap kredit konstruksi proyek apartemen.
Strategi pengembang saat ini lebih diarahkan pada upaya menghabiskan stok unit yang tersedia (inventory clearing) atau melanjutkan proyek yang telah berjalan.
Di sisi lain, sektor perhotelan dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh, namun perlu didorong melalui diversifikasi pasar. Ketergantungan pada belanja pemerintah dinilai perlu dikurangi dengan memperluas segmen wisatawan domestik dan korporasi.
“Hotel harus mulai mendiversifikasi pasarnya dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada government spending. Dengan suplai yang relatif terkendali, peluang pertumbuhan di sektor ini masih cukup besar ke depan,” pungkas Ferry.




Komentar