Program 3 Juta Rumah Diproyeksi Sumbang Pertumbuhan Ekonomi hingga 2 Persen%
- Erfendi
- 12 Mar
- 2 menit membaca

CIKARANG,JPI- Program pembangunan 3 juta rumah per tahun yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto diperkirakan tidak hanya menjawab kebutuhan hunian masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menyatakan, pengembangan rumah rakyat dan rumah susun (rusun) subsidi berpotensi memberikan tambahan kontribusi sekitar 1,5% hingga 2% terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
“Kalau nanti semua berjalan sesuai rencana, pembangunan 3 juta rumah atau apartemen setiap tahun bisa memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1,5% sampai 2%,” ujar Hashim saat ditemui di kawasan Meikarta, Cikarang Selatan, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, sektor perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian karena melibatkan banyak industri turunan, mulai dari konstruksi, bahan bangunan, logistik, hingga sektor jasa.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Hashim menjelaskan, dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini berada di kisaran 5,3%, kontribusi tambahan dari sektor perumahan berpotensi mendorong pertumbuhan ke level sekitar 7%.
Dampak tersebut dinilai realistis karena pembangunan hunian berskala besar akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan serta meningkatkan permintaan terhadap berbagai material konstruksi yang sebagian besar diproduksi di dalam negeri.
Selain sektor perumahan, pemerintah juga mengandalkan program hilirisasi industri sebagai penggerak tambahan pertumbuhan ekonomi.
“Kalau sekarang pertumbuhan sekitar 5,3%, dari sektor perumahan bisa naik mendekati 7%. Dari proyek-proyek hilirisasi mungkin bisa menambah sekitar 1% lagi atau bahkan lebih,” kata Hashim.
Dengan kombinasi kedua sektor tersebut, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 8% per tahun dapat dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
Dimulai dari Rusun Subsidi Meikarta
Sebagai bagian dari implementasi program 3 juta rumah, pemerintah telah memulai pembangunan proyek rumah susun subsidi pertama pada Minggu (8/3/2026) di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi.
Proyek tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan Lippo Group yang menyediakan lahan seluas 30 hektare untuk pembangunan hunian vertikal bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Menteri Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait sebelumnya menyampaikan bahwa lahan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi sekitar 140.000 unit hunian vertikal.
“Kalau 30 hektare ini luar biasa. Dari gambaran tim Danantara dan Pak James [Riady], bisa menjadi kurang lebih 140.000 unit,” ujar Ara.
Menurutnya, nilai lahan di kawasan tersebut berkisar antara Rp15 juta hingga Rp20 juta per meter persegi. Dengan asumsi tersebut, kontribusi hibah lahan dari Lippo Group diperkirakan mencapai sekitar Rp4,5 triliun hingga Rp6 triliun.
Didukung Skema Pembiayaan FLPP
Dalam pelaksanaannya, proyek hunian subsidi tersebut akan disalurkan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), di mana pemerintah memberikan subsidi bunga kredit agar harga rumah tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Melalui percepatan pembangunan hunian vertikal dan rumah rakyat di berbagai daerah, pemerintah berharap tidak hanya dapat mengurangi backlog perumahan nasional, tetapi juga menjadikan sektor perumahan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi domestik.




Komentar