Pengembang Properti Diprediksi Fokus Segmen Menengah Atas pada 2026 untuk Menjaga Presales
- Erfendi
- 12 Mar
- 2 menit membaca

JAKARTA, JPI - Sejumlah pengembang properti diperkirakan akan lebih agresif menggarap produk segmen menengah atas hingga premium pada 2026 sebagai strategi menjaga kinerja prapenjualan (marketing sales). Langkah ini dinilai menjadi cara paling realistis untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan di tengah dinamika pasar properti domestik.
Analis Indo Premier Sekuritas, Halima Yefany dan Aurelia Barus, menilai sejumlah pengembang mulai mengandalkan proyek-proyek dengan harga lebih tinggi guna menopang kinerja presales tahun ini.
“Sepanjang 2026, kami melihat para pengembang akan lebih fokus pada produk segmen menengah atas hingga premium guna menopang penjualan presales,” tulis keduanya dalam laporan riset yang dirilis Sabtu (7/3/2026).
Strategi Pengembang Besar
Dalam laporannya, Indo Premier mencatat beberapa emiten properti telah menyiapkan strategi peluncuran proyek baru untuk menjaga momentum penjualan. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), misalnya, menargetkan prapenjualan sekitar Rp10 triliun pada 2026, relatif stabil dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Target tersebut akan didorong oleh penjualan proyek di kawasan BSD City, termasuk rencana peluncuran
Nava Park II yang diproyeksikan menyumbang penjualan sekitar Rp1 triliun.
Selain itu, BSDE juga mengandalkan penjualan lahan senilai Rp1,5 triliun dari fase kedua kerja sama joint venture dengan Astra Land, lini bisnis properti milik Astra International.
Sementara itu, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membidik prapenjualan sekitar Rp1,5 triliun pada 2026, atau tumbuh sekitar 15% secara tahunan. Target tersebut akan ditopang oleh peluncuran lanjutan proyek apartemen di kawasan Kota Kasablanka, dengan potensi kontribusi penjualan sekitar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar.
Di sisi lain, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) hingga kini belum merilis panduan resmi kinerja untuk 2026. Meski demikian, perusahaan diperkirakan akan melanjutkan strategi tahun sebelumnya dengan memperbanyak peluncuran produk hunian di segmen menengah atas hingga premium.
Permintaan Dinilai Masih Kuat
Menurut analis Indo Premier, fokus pada segmen menengah atas dinilai lebih menjanjikan karena permintaan di kelas ini relatif lebih stabil dibandingkan segmen bawah yang masih sangat bergantung pada kebijakan subsidi dan pembiayaan pemerintah.
Selain itu, konsumen di segmen menengah atas umumnya memiliki daya beli yang lebih kuat serta tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun kondisi ekonomi jangka pendek.
Dengan strategi tersebut, para pengembang diharapkan mampu mempertahankan kinerja presales pada 2026 sekaligus menjaga arus kas di tengah tantangan pasar properti yang masih berproses menuju pemulihan penuh.
Sumber: Bisnis.com




Komentar