Daya Beli Melemah,PPN DTP Dinilai Masih Efektif Jaga Permintaan Rumah
- Erfendi
- 4 hari yang lalu
- 2 menit membaca

KARAWANG, JPI – Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga akhir 2026 dinilai masih menjadi salah satu stimulus penting dalam menjaga kinerja sektor properti di tengah perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Direktur Citanusa Group, Anton Suwandi, mengatakan kebijakan PPN DTP 100 persen masih memberikan dampak positif terhadap keputusan masyarakat, terutama pembeli rumah pertama, untuk segera merealisasikan kepemilikan hunian.
"Insentif PPN DTP membantu meringankan biaya pembelian rumah sehingga memberikan peluang lebih besar bagi masyarakat untuk memiliki hunian dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.
Menurut Anton, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang mampu menjaga permintaan pasar residensial, khususnya pada segmen rumah menengah yang hingga kini masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Hal tersebut sejalan dengan hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia
Triwulan I 2026 yang mencatat penjualan rumah tipe menengah mengalami pertumbuhan. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap hunian, terutama bagi keluarga muda dan kelompok kelas menengah, masih relatif kuat.
Optimisme tersebut juga tercermin pada kinerja penjualan proyek Karawang Green Village 3 (KGV3) yang dikembangkan Citanusa Group. Kawasan residensial ini menyasar keluarga muda dan masyarakat kelas menengah dengan menawarkan hunian yang mengutamakan keseimbangan antara harga, kualitas bangunan, serta akses menuju kawasan industri dan pusat aktivitas ekonomi.
Sepanjang semester pertama 2026, KGV3 mencatat peningkatan efektivitas penjualan. Rasio transaksi terhadap jumlah kunjungan konsumen (closing rate) meningkat dari sekitar 20 persen pada kuartal pertama menjadi hampir 30 persen pada kuartal kedua.
Menurut Anton, kenaikan tersebut menunjukkan bahwa properti masih dipandang sebagai instrumen investasi jangka panjang sekaligus kebutuhan dasar yang memiliki prospek nilai tambah di masa mendatang.
"Konsumen tidak hanya membeli rumah sebagai tempat tinggal, tetapi juga mempertimbangkan potensi pertumbuhan kawasan dan nilai investasi jangka panjang," katanya.
Untuk menjangkau kebutuhan pasar yang lebih luas, Citanusa Group menawarkan empat pilihan tipe hunian dengan kisaran harga Rp300 juta hingga Rp600 juta. Produk tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen, mulai dari pasangan muda hingga keluarga yang membutuhkan ruang hunian lebih besar.
Ke depan, perseroan optimistis prospek pasar residensial di Karawang akan terus membaik seiring berkembangnya kawasan industri, pembangunan infrastruktur strategis, serta meningkatnya konektivitas wilayah yang mendorong permintaan hunian.
Anton berharap berbagai stimulus pemerintah, termasuk keberlanjutan insentif PPN DTP, dapat terus menjaga momentum pemulihan sektor properti sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memiliki rumah.
"Kolaborasi antara kebijakan pemerintah, pertumbuhan infrastruktur, dan pengembangan kawasan akan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan pasar properti nasional, khususnya pada segmen rumah menengah," tutupnya.




Komentar