top of page

Anak Usaha Timah (TINS) Lanjutkan Proyek Perumahan di Bekasi, Kembangkan Familia Urban 176 Hektar

PT Timah Karya Persada Properti (Timah Properti), anak perusahaan BUMN PT Timah Tbk mengembangkan perumahan Familia Urban.
PT Timah Karya Persada Properti (Timah Properti), anak perusahaan BUMN PT Timah Tbk mengembangkan perumahan Familia Urban.

JAKARTA, JPI - PT Timah Tbk. (TINS) melalui anak usahanya, PT Timah Karya Persada Properti (Timah Properti), melanjutkan pengembangan proyek perumahan di Bekasi. Hingga akhir 2025, perseroan tetap memfokuskan pengembangan kawasan Familia Urban, proyek hunian terpadu yang telah digarap sejak 2016.


Direktur Utama Timah Properti Abdul Kamaroes mengatakan, kawasan Familia Urban direncanakan dikembangkan secara penuh di atas lahan seluas 176 hektar. Saat ini, pengembangan telah memasuki klaster ke-10 yang diberi nama Nawasena, dengan sasaran utama segmen keluarga.


ā€œKami menyasar segmen keluarga dengan konsep hunian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,ā€ ujar Abdul Kamaroes, Jumat (19/12/2025).


Sejalan dengan itu, Direktur Timah Properti Candra Hadiqadriman menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan menjadi strategi utama dalam pengembangan kawasan. Berbagai aspek ramah lingkungan diterapkan, mulai dari efisiensi energi hingga sistem drainase berwawasan lingkungan.


ā€œKami konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan, termasuk efisiensi energi serta pengelolaan saluran air yang ramah lingkungan di seluruh kawasan,ā€ jelas Candra.

Memasuki penghujung 2025, Timah Properti juga mendorong percepatan pembangunan dan pemasaran proyek. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kolaborasi dengan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR)Ā guna memastikan penggunaan material bangunan berkualitas dalam pengembangan kawasan.


ā€œKami menilai kualitas produk Semen Indonesia sangat baik. Karena itu, material tersebut kami gunakan dalam pembangunan kawasan dan ke depan akan terus membuka peluang sinergi lainnya,ā€ imbuh Candra.


Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika global, manajemen menilai ketepatan waktu serah terima unit menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat kinerja operasional dan reputasi perusahaan secara berkelanjutan.


Sementara itu, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property, Martin Hutapea, mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir terjadi perubahan signifikan pada pola bisnis pengembang daerah. Jika sebelumnya agresif melakukan penjualan, kini banyak pengembang memilih bersikap lebih hati-hati dan fokus menyelesaikan komitmen pembangunan.


ā€œBanyak developer kecil di daerah yang sudah menjual ribuan unit sejak tiga tahun lalu. Namun ketika masuk tahap penyerahan unit, mereka mengalami kesulitan,ā€ ujar Martin.


Kondisi tersebut berdampak pada melambatnya peluncuran proyek baru, khususnya di wilayah berkembang yang sebelumnya menjadi motor penjualan rumah tapak. Pengembang besar dinilai lebih mampu menjaga ritme pembangunan karena memiliki cadangan lahan lama dengan harga perolehan yang jauh lebih rendah.


Menurut Martin, tantangan terbesar bagi pengembang baru adalah tingginya harga tanah, terutama di kawasan strategis seperti Tangerang Selatan, BSD, hingga Alam Sutera. Saat ini, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di kawasan tersebut sudah berada di kisaran Rp8–12 juta per meter persegi.


ā€œDengan harga tanah setinggi itu, sulit bagi pengembang baru untuk menghadirkan rumah dengan harga terjangkau. Secara perhitungan, marginnya tidak masuk,ā€ jelasnya.

Secara umum, pengembang membutuhkan margin sekitar 40–50% untuk menutup biaya dan risiko proyek, sementara pada proyek rumah subsidi margin dapat turun hingga 20–25%. Kondisi ini membuat selektivitas proyek dan kepastian pembangunan menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan bisnis properti.

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page